Kamis, 10 Maret 2011
Dibalik Rahasia Sedekah
DIBALIK RAHASIA BERSEDEKAH Dari Sayyidah Aisyah Ra, Beliau menceritakan tentang pertemuan wanita dengan Nabi Muhammad SAW, yang tangan kanannya dalam keadaan lumpuh.
Wanita itu berkata : “Wahai Nabi Allah sudikah kiranya engaku momohon kepada Allah SWT semoga Dia (Allah) menyembuhkan tanganku.”
Nabi bersabda kepadanya : ”Apa yang menyebabkan tanganmu lumpuh?”, wanita itu menceritakan kepada Rasulullah SAW : ”Ya Rasulullah, pada suatu malam aku bermimpi seakan-akan hari kiamat akan tiba, neraka jahanam telah menyala-menyala dan surga telah terbentang dengan indah.
Dan saya mengetahui bahwa ibu saya berada didalam neraka jahanam sedang ditangannya terdapat sepotong lemak dan ditangan satunya terdapat sepotong kain lap, dengan kain lap dan lemak itu ibuku menahan panasnya api neraka, maka pada waktu itu saya berkata kepadanya : “Mengapa ibu di dalam jurang api neraka? Bukankah ibu seorang yang ta’at kepada Allah, dan ayah telah merelakan?” Ibu menjawab : “Hai anakku, aku didunia kikir dan disini tempat orang-orang yang kikir”, saya bertanya lagi kepadanya : “Apalah arti lemak dan kain lap yang ada ditangan ibu?”. Ibuku menjawab : “Keduanya ini pernah ibu dermakan sedekah dan saya tidak pernah bersedekah didunia ini kecuali keduanya.” Saya bertanya : “Dimana ayah?”. “Ayahmu orang dermawan maka dia tinggal bersama orang yang dermawan.” maka sayapun datang kesurga dan ternyata ayah sedang berdiri di telaga bersama engkau ya Rasulullah, dan saya berkata kepada ayah : “Wahai ayahku sungguh ibu dan juga istrimu sekarang berada di neraka terbakar, sedangkan engkau memberi minum orang-orang dari telaga ini, oleh karena itu berilah ibu air minum dari telaga ini ayah.” Kata ayahku “Wahai anakku sesungguhnya Allah telah menghramkan orang-orang yang kikir untuk meminum air telaga dari Nabi Muhammad SAW.”. Maka dengan tanpa izin ayahku aku mengambil air telaga dan memberi ibuku segelas air untuk menghilangkan kehausannya, tiba-tiba suara yang menyeramkan berkata : “Semoga Allah melumpuhkan tanganmu karena engkau telah memberi minum kepada orang yang kikir dari telaga Nabi Muhammad SAW”. Maka saya terbangun dan ternyata tangan saya telah lumpuh seperti ini.
Selanjutnya Sayyidah Aisyah Ra. Berkata :”Setelah Nabi Muhammad SAW mendengar wanita tadi Nabi lalu meletakkan tongkatnya pada wanita itu seraya berdo’a kepada wanita itu : “Ya Allah demi zat-Mu yang mulia dengan pengaduan kebenaran mimpinya yang telah dia ceritakan kepadaku maka sembuhkanlah tangannya, maka tangannya sembuh seperti semula. Demikian cerita keutamaan sedekah.
- “Dikutip dari kitab Durrotunashihin” - Selanjutnya..
Sempurnanya iman seseorang
Ditulis Oleh: Munzir Almusawa
Monday, 07 March 2011
Sempurnanya Iman Seseorang
Senin, 21 Februari 2011
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : لَايُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ ( صحيح البخاري )
Sabda Rasulullah saw : “Belum sempurna iman kalian, hingga aku lebih dicintainya, dari ayah ibunya, dan anaknya, dan seluruh manusia” (Shahih Bukhari)
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Limpahan puji kehadirat Allah Maha Raja Tunggal dan Abadi, Pencipta alam semesta dari tiada dan menjadikan kerajaan langit dan bumi sebagai lambang keluhuran Ilahi, mengenalkan kita kepada keluhuran Allah. Semua yang dicipta Allah dari langit dan bumi, matahari dan bulan, siang dan malam, daratan dan lautan, hewan dan tumbuhan,tiadalah kesemua itu kecuali sebagai tanda keluhuran Allah, tanda keagungan Allah, yang mengenalkan kita kepada Dzat-Nya Yang Maha Luhur. Ketahuilah bahwa seluruh alam semesta ini berdzikir mengagungkan nama-Nya, mensucikan nama-Nya, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala :
يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
( الحشر : 24 )
“ Apa yang ada di langit dan bumi bertasbih kepada-Nya, dan Dialah Yang Mahaperkasa Maha bijaksana”. ( QS. Al Hasyr : 24 )
Sungguh Allah tidak membutuhkan pujian dan tidak pula butuh disucikan namun bagiku dan kalian yang banyak mensucikan nama Allah dan memuji Allah maka ia akan dibuat terpuji oleh Allah, disucikan dari dosa, disucikan dari hal-hal yang hina, dan dimuliakan hingga sampai kepada puncak-puncak keluhuran, itulah balasan bagi mereka yang memuji dan mensucikan Allah subhanahu wata’ala. Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam hadits Qudsi riwAyat Shahih Muslim :
يَا عِبَادِي إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِي وَجَعَلْتُهُ مُحْرِمًا بَيْنَكُمْ فَلا تَظَّالَمُوا
“ Wahai hamba-hamba-Ku telah Kuharamkan perbuatan zhalim (jahat) kepada diri-Ku, dan telah Kuharamkan pula perbuatan zhalim diantara kalian, maka janganlah kalian saling menzhalimi”.
Semua manusia yang setiap butir selnya diciptakan oleh Allah dari tiada, yang siang dan malamnya selalu dalam bimbingan dan naungan anugerah Allah, didalam rahmat Allah diseru oleh Allah bahwa semua hamba dalam kegelapan dan kesalahan kecuali orang yang telah diberi hidayah (petunjuk) oleh Allah, maka mohonlah petunjuk kepada Allah.
Seseorang yang telah mendapatkan bimbingan keluhura namun ia terus meminta kepada Allah untuk ditunjukkan kepada jalan keluhuran, maka Allah akan memberinya petunjuk lagi ke jalan yang indah, sehingga ia terus terbimbing kepada hal yang semakin indah tiada berakhir. Oleh sebab itu kita diperintah oleh Allah dalam setiap rakaat untuk membaca surat Al Fatihah, yang mana dalam surat itu terdapat ayat :
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ
( الفاتحة : 6 )
“ Tunjukkan kami ke jalan yang lurus”. ( QS. Al Fatihah : 6 )
Meskipun kita telah diberi petunjuk ke jalan yang benar berupa Islam, namun kita terus meminta agar ditunjukkan ke jalan yang lurus, mengapa? karena kita selalu dalam godaan syaitan, selalu terjebak dalam kehinaan dan maksiat, maka terus meneruslah meminta kepada Allah agar Allah memberikan ampunan kepada kita, kekuatan dan kemampuan kepada kita untuk menjauhi segala larangan-Nya dan mengerjakan hal-hal yang diperintah-Nya. Jika Allah tidak memberikan hal itu kepada kita, maka lemahlah kita dari taat kepada-Nya, sebagaimana firman-Nya dalam hadits qudsi :
يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ تُخْطِئُونَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَأَنَا الَّذِي أَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيْعًا فَاسْتَغْفِرُونِي أَغْفِرْ لَكُمْ
“ Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya kalian dalam kesalahan di siang dan malam, dan Aku lah Yang Maha Mengampuni semua dosa-dosa, maka mohonlah pengampunan kepada-Ku akan Kuampuni dosa-dosa kalian”
Sungguh indahnya Rabbul ‘alamin Yang menawarkan pengampunan kepada hamba-Nya yang berbuat salah. Allah Maha Mengetahui bahwa manusia adalah tempat kesalahan di siang dan malam, kecuali para nabi dan rasul yang ma’sum, jauh dari kesalahan dan Allah adalah Yang mengampuni dosa-dosa dan menerima taubat hamba-hamba-Nya. Jadi jika ada yang protes kalau ceramah saya, atau Ustadz Khairullah atau yang lainnya jika menyampaikan ceramah ada yang salah atau yang lainnya maka hal itu hal itu wajar, karena kami adalah manusia biasa bukan nabi atau rasul yang terbebas dari kesalahan. Maka jika bukan nabi atau rasul pastilah terdapat kesalahan. Kemudian Allah berfirman dalam hadits qudsi :
يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ جَائِعٌ إِلاَّ مَنْ أَطْعَمْتُ فَاسْتَطْعِمُونِي أُطْعِمْكُمْ ، يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ عَارٍ إِلاَّ مَنْ كَسَوْتُ ، فَاسْتَكْسُونِي أَكْسُكُمْ
“ Wahai hamba-hamba-Ku kalian semua dalam kelaparan kecuali yang telah Kuberi makan, maka mintalah makan kepada-Ku Aku akan member kalian makan, wahai para hamba-Ku, kalian semua tanpa pakaian ( telanjang ) kecuali orang yang telah Aku berikan pakaian kepadanya, maka mintalah pakaian kepada-Ku Aku akan member kalian pakaian”.
Tentunya makanan disini mempunyai makna yang dalam, bahwa makanan yang kita makan jika Allah tidak memberikan manafaatnya kepada kita maka makanan itu bisa menjadi racun atau penyakit bagi tubuh kita. Dan jika ketika akan memakan makanan tanpa mengucapkan basmalah, dan setelah selesai makan tidak mengucapkan hamdalah maka makanan itu akan menjadi racun bagi dirinya. Maka mintalah makanan kepada Allah, banyak orang-orang yang tidak beriman kepada Allah namun mereka tetap mendapatkan makanan dan bisa makan namun bisa jadi makanan yang mereka makan membawa bahaya atau penyakit baginya. Begitu pula mohonlah kepda Allah makanan rohani, banyak diantara kita yang siang dan malam lewat dalam kegembiraan, jika ia tidak diberi santapan rohani maka ia akan mersa dalam kesedihan walaupun sebenarnya dia dalam kegembiraan, dia akan melewati siang dan malamnya dalam keadaan sedih,susah, kesal dan gundah. Sebaliknya banyak orang yang dalam kesempitan, kesedihan dan musibah namun jika Allah memberikan kelapangan dalam hatinya maka ia akan lewati hari-harinya dengan sabar dan doa maka musibahnya akan segera disingkirkan oleh Allah dan digantikan dengan kenikmatan dan jika ia lewati kenikmatannya dengan bersyukur dan banyak berbuat baik maka Allah akan tumpahkan kenikmatan-Nya , merekalah orang-orang yang Allah berikan kepadanya santapan rohani. Dan Allah berfirman supaya hamba meminta pakaian kepada-Nya. Semua orang merasa bisa membeli pakaian, namun pakaian disini mempunyai makna yang sangat dalam yaitu pakaian yang menutupi aib-aib manusia, banyak orang yang memakai pakaian setebal-tebalnya namun aib-aibnya tetap terlihat. Allah subhanahu wata’ala Maha Mampu menutupi aib hamba-hamba-Nya, dan sebaik-baik pakaian adalah ketakwaan sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala :
وَلِبَاسُ التَّقْوَى ذَلِكَ خَيْرٌ
( الأعراف : 26 )
“ Dan pakaian takwa itulah yang lebih baik”.( QS. Al A’raf : 26 )
Begitu pula dengan Pakaian ketakwaan itulah pakaian yang paling mulia dari pakaia n yang lainnya, tentunya pakaian yang lain juga kita pakai, namun jika kita menggunakan pakaian ketakwaan tentunya siang dan malam kita penuh dengan dosa dan kesalahan yang terus menumpuk dari hari ke hari, maka pakain ketakwaan itu adalah bekal kita untuk menghadap Allah subhanahu wata’ala. Maka mintalah kepada-Nya pakaian dan pakaian khusus adalah pakaian ketakwaan. Kemudian Allah berfirman dalam hadits qudsi :
إِنَّكُمْ لَنْ تَبْلُغُوْا ضَرِّيْ فَتَضُرُّوْنِيْ، وَلَنْ تَبْلُغُوْا نَفْعِيْ فَتَنْفَعُوْنِيْ
Sungguh sebaik-baik semua tidak akan bisa memberi manfaat atau berguna untuk Allah. Semua manusia berbuat baik maka hal itu tidak akan membawa manfaat bagi Allah subhanahu wata’ala. Allah Maha melimpahkan manfaat, Allah tidak butuh sesuatu apapun dari kita. Begitu pula jika semua manusia berbuat kemungkaran maka hal itu tidak akan bisa membuat Allah rugi. Kita bisa merugikan orang lain namun tidak bisa membuat Allah rugi atau beruntung. Dan firman Allah dalam hadits qudsi :
يَا عِبَادِي ، لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ مِنْكُمْ لَمْ يَزِدْ ذَلِكَ فِي مُلْكِي شَيْئًا . يَا عِبَادِي ، لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ ، وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ ، كَانُوا عَلَى أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ مِنْكُمْ لَمْ يَنْقُصْ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِي شَيْئًا
“ Wahai hamba-Ku, jika semua golongan manusia dan jin dari golongan pertama hingga terakhir berbuat baik dengan hati yang paling bertakwa sekalipun hal itu tidak akan menambah sedikit pun kerajaan-Ku. Whai hamba-hamba-Ku jika seluruh jin dan manusia dari golongan pertama dan terkahir berbuat jahat maka hal itu tidak pula mengurangi kerajaan-Ku sedikitpun”
Maksudnya, bahwa Allah tidak butuh sesuatu kepada kita namun kita yang selalu butuh kepada Allah dalam setiap waktu dan saat, kita selalu membutuhkan bantuan Allah karena jika Allah tidak membantu kita, saat ini kita tenang-tenang saja mungkin saja ada seribu makhluk yang sedang berniat jahat kepada kita, mungkin ada sihir yang sedang dikirim kepada kita, atau ada fitnah yang sedang dilontarkan kepada kita, atau mungkin ada rencana jahat untuk mencelakakan kita tanpa kita ketahui, namun hal itu tersingkirkan karena kekuatan Allah yang melindunginya. Allah Maha Tau setiap getaran hati hamba-Nya, niat-niat hamba-Nya. Misalnya ada yang hadir di majelis ini barangkali dengan niat mencopet, sehingga pencopet pun membawa jadwal maulid yang akhirnya setiap majelis ada yang kehilangan handphone atau yang lainnya, yang hadir maulid semakin ramai dan copetnya pun semakin ramai. Allah Maha Tau tentang hal itu, mengetahui niat dalam hati kita. Ada yang hadir dengan niat copet dan ikut desak-desakan dengan orang yang mau bersalaman namun bukan untuk bersalaman tapi untuk mengambil dompet atau handphone, maka waspadalah dalam hal ini jangan sampai kebobolan. Namun ingat Allah subhanahu wata’ala Maha Luhur dan Maha Melihat perbuatan hamba-hamba-Nya. Firman Allah dalam hadits qudsi :
يَا عِبَادِي ، لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ ، وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمُ اجْتَمَعُوا فِي صَعِيدٍ وَاحِدٍ ، فَسَأَلُونِي ، فَأَعْطَيْتُ كُلَّ إِنْسَانٍ مِنْكُمْ مَا سَأَلَ لَمْ يَنْقُصْ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِي إِلاَّ كَمَا يَنْقُصُ الْبَحْرُ أَنْ يَغْمِسَ فِيهِ الْمِخْيَطُ غَمْسَةً وَاحِدَةً
“ Wahai hamba-hamba-Ku, jika manusia dan jin dari yang pertama hingga yang terakhir berkumpul dalam satu tempat yang luas, kemudian meminta kepada-Ku kemudian aku berikan kepada semua yang meminta apa yang mereka minta, maka hal itu tidak mengurangi kerajaan-Ku sedikitpun kecuali seperti sehelai benang yang dicelupkan ke dalam lautan sekali celupan”
Seluruh hajat hamba tiada artinya di hadapan Allah, jika Allah berikan semua hajat itu maka hal itu tidak akan mengurangi kerajaan Allah sedikitpun. Berbeda halnya jika kita memberikan sesuatu yang kita miliki maka sesuatu itu akan berkurang dari kita. Namun Allah pencipta segala sesuatu, jika Allah berkehendak untuk menciptakan sesuatu maka akan tercipta. Sebagaimana firman-Nya :
إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ
( يس : 82 )
“Sesungguhnya urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu Dia hanya berkata kepadanya, “jadilah!”, maka jadilah sesuatu itu”. (QS. Yasiin : 82 )
Kemudian Allah berfirman dalam hadits qudsi :
يَا عِبَادِي إِنَّمَا هِيَ أَعْمَالُكُمْ أَحْفَظُهَا عَلَيْكُمْ ، فَمَنْ وَجَدَ خَيْرًا ، فَلْيَحْمَدِ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ ، وَمَنْ وَجَدَ غَيْرَ ذَلِكَ فَلَا يَلُوْمَنَّ إِلَّا نَفْسَهُ
“ Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya hal itu adalah amal-amal kalian, maka barangsiapa yang mendapatkan kebaikan (surga), maka hendaknya ia memuji Allah, dan jika ia mendapatkan selain itu ( neraka) maka jangan salahkan yang lain kecuali dirinya sendiri”
Maksudnya jika kita mendapatkan surga maka kita hendaknya memuji Allah, karena setiap pahala kita dikalikan 10 hingga 100 kali lipat dan banyak dosa-dosa yang dihapus Allah. Namun jika dengan hal itu masih tetap mendapat neraka, padahal dalam setiap shalat ada penghapusan dosa, dalam istighfar ada penghapusan dosa, membaca dzikir ada penghapusan dosa, hadir di majelis dzikir ada penghapusan dosa dan semua perbuatan baik diberi pahala dan penghapusan dosa, tetapi masih masuk neraka juga, maka jangan salahkan selain dirinya sendiri.
Saudara saudariku yang kumuliakan
Sampailah kita pada hadits yang kita baca tadi, bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam riwayat Shahih Al Bukhari :
لَايُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ
“ Tidak sempurna iman salah seorang diantara kalian sampai aku lebih dicintainya dari orang tuanya, anaknya dan semua manusia”
Maka belum sempurna iman seseorang sehingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dicintainya lebih dari semua orang. Nabiyullah Ibrahim AS ketika diberi ujian oleh Allah subhanahu wata’ala untuk menyembelih anaknya, mana yang lebih ia cintai, Allah subhanahu wata’ala atau anaknya?!, maka nabi Ibrahim pun menjalankan perintah Allah, namun sebelum ia menyembelih nabi Ismail, Allah subhanahu wata’ala memerintah malaikat Jibril untuk menahan tangan nabi Ibrahim kemudian menggantikan sembelihannya dengan seekor domba. Allah ingin menguji sampai dimana keimanan dan kecintaan nabi Ibrahim kepada Allah, maka dikatakan oleh Rasulullah bahwa ummat ini harus lebih mencintai nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dari semua manusia. Al Imam Ibn Hajar Al Asqalani berkata dalam kitab Fathul Bari bisyarh Shahih Al Bukhari bahwa iman mempunyai tingkatan, dan semakin seseorang cinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam maka semakin sempurna imannya dan di saat itulah ia mencapai tangga kesempurnaan iman, dan terus mencintai Rasulullah. Al Imam Ibn Hajar menyampaikan riwayat sayyidina Umar yang berkata : “wahai rasulullah aku lebih mencintaimu dari seluruh manusia kecuali diriku sendiri”, maka Rasulullah bersabda : “belum sempurna wahai Umar, kecuali aku lebih engkau cintai dari dirimu sendiri”, kemudian sayyidina Umar bin Khatthab berkata : “wahai Rasulullah, sekarang aku lebih mencintai dirimu dari semua manusia bahkan dari diriku sendiri”, maka Rasulullah menjawab : “sekarang wahai Umar”, barulah sayyidina Umar masuk ke dalam gerbang kesempurnaan iman, demikian terus menuju tangga-tangga iman yang lebih sempurna lagi, demikian pula murid-murid sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang lainnya. Dan kita jangan berputus asa, teruslah berusaha dengan kemampuan kita untuk meniti tangga-tangga kesempurnaan iman itu dengan mencintai sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Tentunya setiap individu mempunyai kemampuan yang berbeda, namun teruslah berusaha dan tidak berputus asa untuk menuju kesempurnaan iman dengan lebih mencintai Rasulullah dari semua manusia bahkan dari dirinya sendiri. Dan harus kita fahami bahwa perayaan maulid nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam atau syiar-syiar diadakan adalah agar kita semua semakin mencintai nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Saya tidak berpanjang lebar menyampaikan tausiah, ada beberapa hal yang perlu saya sampaikan, yang pertama bahwa hari Minggu siang yang akan datang dari jam 11.00 sampai jam 03.00 ada acara maulid nabi Muhammad shallalahu ‘alaihi wasallam di masjid raya Al Munawwar ini, maka yang punya waktu silahkan datang. Yang kedua bahwa besok malam Rabu ada acara tasyakkuran salah seorang anggota Majelis Rasulullah dan sekaligus tasyakkuran atas hari kelahiran saya. Bukan berarti saya mengadakan ulang tahun, namun saudara kita ini ingin membuat tasyakkuran atas hari kelahiran saya, tanggal kelahiran saya tidak perlu disebut tanggal berapa, khawatir nanti banyak hadiah yang berdatangan dan saya tidak bisa berterimakasih kecuali hanya dengan doa saja. Jadi majelis besok sekaligus acara tasyakuran yang bertepatan dengan hari kelahiran saya dan juga haul salah satu keluarga beliau, insyaallah saya hadir, bukan hadiah yang saya harapkan namun kehadiran kalian yang saya harapkan. Dan yang ketiga, berhubung dengan banyaknya pertanyaan yang muncul atas fitnah-fitnah yang terjadi saat ini, maka kita tetap berjalan di bawah fatwa guru mulia kita Al Musnid Al Arif billah Al Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafizh yaitu agar diantara ummat muslimin muslimat ini tidak terjadi perpecahan, dan juga tidak ada perbedaan pendapat bahwa orang yang mengakui bahwa ada nabi setelah nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam maka ia telah murtad, seluruh madzhab telah sepakat akan hal itu. Namun ada perbedaan cara dalam membenahinya dan dalam hal ini guru mulia menyampaikan kepada saya dan untuk disampaikan kepada semua jama’ah majelis rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa jama’ah majelis rasulullah tidak bertindak kekerasan dengan cara berdemo, namun orang yang memilih demo juga tidak ada permusuhan dan perpecahan dengan kita karena tujuan mereka sama namun cara berbeda. Maka kita jama’ah majelis rasulullah mengikuti guru mulia kita Al Musnid Al Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafizh, dengan cara bayan (penjelasan) dan ta’lim. Ketika banyak orang yang berkunjung kepada beliau dan bertanya : “wahai Habib, jika banyak faham dan aliran-aliran sesat telah muncul maka apa yang harus kita perbuat”? maka beliau menjawab : “buatlah majelis-majelis umum yang semua orang bisa hadir, karena majelis-majelis seperti itu meminimalkan muncuknya aliran-aliran sesat”. Hal itu yang telah diinstrusikan oleh guru mulia kepada saya. Jika di majelis-majelis yang lain memilih cara dengan demo maka silahkan saja, namun tidak ada ikhtilaf bahwa yang mengakui ada nabi terakhir setelah nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam maka hal itu murtad. Itulah fatwa dari guru mulia kita, dan Insyaallah dalam beberapa bulan ini beliau akan berkunjung lagi ke Indonesia dan kita akan kembali berjumpa dengan beliau, amin. Dan kedepan kita akan terus menyebarkan syiar, dengan acara Isra’ Mi’raj, Nisfu Sya’ban , Haul Ahlu Badr insyaallah. Semoga keadaan muslimin muslimat semakin dibenahi oleh Allah subhanahu wata’ala, bersatu tanpa ada perpecahan, semakin Allah tebarkan hidayah sehingga mereka yang dalam kerusakan aqidah diberi taubah dan hidayah dari Allah subhanahu wata’ala, dan mereka yang dalam niat-niat yang kurang baik seperti yang niat mencopet kesini, semoga dilimpahi taubat untuk tidak mencopet lagi, saya doakan orang yang berniat buruk datang ke majelis ini dan ia bertobat maka Allah akan limpahi rahmat dan kemakmuran, amin. Selanjutnya kita berdzikir bersama untuk ketenangan kita, kota kita, bangsa kita dan seluruh muslimin muslimat, semoga rahmat berlimpah kepada kita. Dan juga semua yang menyaksikan dari jauh, yang mendengarkan di radio atau di streaming website majelis rasulullah semoga dilimpahi rahmat, amin ya rabbal ‘alamin…
فَقُوْلُوْا جَمِيْعًا
Ucapkanlah bersama-sama
يَا الله...يَا الله... ياَ الله.. ياَرَحْمَن يَارَحِيْم ...لاَإلهَ إلَّاالله...لاَ إلهَ إلاَّ اللهُ اْلعَظِيْمُ الْحَلِيْمُ...لاَ إِلهَ إِلَّا الله رَبُّ اْلعَرْشِ اْلعَظِيْمِ...لاَ إِلهَ إلَّا اللهُ رَبُّ السَّموَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ وَرَبُّ اْلعَرْشِ اْلكَرِيْمِ...مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ،كَلِمَةٌ حَقٌّ عَلَيْهَا نَحْيَا وَعَلَيْهَا نَمُوتُ وَعَلَيْهَا نُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى مِنَ اْلأمِنِيْنَ.
Selanjutnya kita teruskan dengan qasidah Muhammadun, kemudian talqin dan doa penutup oleh guru kita Al Habib Hud bin Muhammad Baqir Al Atthas, falyatafaddhal masykura…
Terakhir Diperbaharui ( Monday, 07 March 2011 ) Selanjutnya..
Selasa, 22 Februari 2011
Keutamaan Dzikir Kepada Allah SWT
Ditulis Oleh: Munzir Almusawa
Sunday, 20 February 2011
Keutamaan Dzikir Kepada Allah SWT
Senin, 14 Februari 2011
قَالَ رَسُوْلُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى : أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، وَأَنَا مَعَهُ، إِذَا ذَكَرَنِي، فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ، ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي، وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ، ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ، بِشِبْرٍ، تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا، تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا، وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِي، أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً. (صحيح البخاري) وَقَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى أَنَا مَعَ عَبْدِي حَيْثُمَا ذَكَرَنِي وَتَحَرَّكَتْ بِي شَفَتَاهُ (صحيح البخاري)
Sab
Dan berkata Abu Hurairah ra, dari Nabi SAW, Allah SWT berfirman: “Aku bersama hambaKu, saat hambaKu mengingatku dan bergerak bibirnya menyebut namaKu” (Shahih Bukhari)
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ اْلجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ اَلْحَمْدُلِلَّهِ الَّذِيْ هَدَانَا بِعَبْدِهِ اْلمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ نَادَانَا لَبَّيْكَ يَا مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبـَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِي جَمَعَنَا فِي هَذَا الْمَجْمَعِ اْلكَرِيْمِ وَفِي هَذَا الشَّهْرِ اْلعَظِيْمِ وَفِي الْجَلْسَةِ الْعَظِيْمَةِ نَوَّرَ اللهُ قُلُوْبَنَا وَإِيَّاكُمْ بِنُوْرِ مَحَبَّةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَخِدْمَةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَاْلعَمَلِ بِشَرِيْعَةِ وَسُنَّةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.
Limpahan puji kehadirat Allah subhanahu wata’ala Yang Maha Memuliakan hamba-hamba-Nya dengan berbagai macam bentuk keluhuran, beribu amal perbuatan, beribu niat dan segala sesuatu yang diperbuat oleh hamba-hamba-Nya, yang kesemua itu bisa Allah subhanahu wata’ala jadikan perantara untuk menuju kepada keridhaan-Nya namun penyambungnya adalah sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, seluruh rantai terputus kecuali dengan sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, bersambunglah para rasul kepada Allah maka bersambung pula seluruh ummat ini kepada Allah dengan perantara nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah subhanahu wata’ala Maha Raja langit dan bumi, Maha Penguasa Tunggal dan Abadi, Maha melimpahkan kesejahteraan sepanjang waktu dan zaman, tanpa peduli Dia melimpahkan apa yang dikehendaki-Nya kepada hamba-hamba-Nya, ada diantara mereka yang dilimpahi kenikmatan untuk semakin jauh dari-Nya, dan ada pula yang dilimpahi kenikmatan untuk semakin bersyukur kepada-Nya, dan ada pula yang dipersempit agar tidak semakin jauh dari-Nya, sungguh tiada perbuatan yang lebih indah dari perbuatan-Nya, dan telah disabdakan oleh nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana diriwayatkan di dalam Shahih Muslim bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda bahwa : “ tidak ada satupun yang lebih cemburu daripada Allah subhanahu wata’ala”. Allah itulah cinta, pemilik dan pencipta cinta, maka jika ada seorang hamba yang lebih cinta kepada selain Allah maka Allah akan cemburu. Maka dirisaukan jika salah seorang hamba diberi keluasan di dunia, maka dia akan terlena di dalamnya padahal dunia hanyalah kehidupan yang sementara bagaikan orang yang hidup dari pagi hingga sore harinya saja. Diriwayatkan di dalam Fathul Bari bisyarh Shahih Al Bukhari, ketika rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang bersandar, ditanyakan kepada beliau tentang kehidupan : “wahai Rasulullah, mengapa engkau begitu santai?”, maka rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata : “hidup ini hanyalah selintas saja, seperti seorang yang berjalan kemudian berteduh di bawah pohon rindang kemudian berjalan lagi”. Berjalan melanjutkan kehidupan yang kekal, kehidupan di dunia bagi kita mungkin hanya 100 tahun bahkan sangat sedikit sekali yang hidup mencapai 100 tahun, sebagian hanya sampai 70 atau 80 tahun, umur semakin pendek dan semakin dekat dengan hari kiamat. Dan setiap detik adalah roda waktu yang berjalan menuju kematian, dan setiap detik itu ada hamba-hamba yang dimuliakan oleh Allah menuju puncak-puncak keluhuran. Hadirin hadirat, bagaimana dengan hamba-hamba yang lewat dengan dosa dan kesalahan, padahal setiap putaran detik itu akan dipertanggung jawabkan. Sebagaimana syarh hadits yang kita baca tadi, sungguh indahnya firman Allah subhanahu wata’ala, hadits ini disebut hadits qudsi, yaitu firman Allah yang diucapkan oleh nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam tetapi tidak dicantumkan dalam Al qur’an Al Karim, dimana makna atau isinya dari Allah namun lafadznya dari nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Sedangkan Al qur’an Al Karim makna atau isi dan lafadznya dari Allah subhanahu wata’ala. Hadits qudsi yang kita baca tadi :
أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِيْ بِيْ
“ Aku tergantung ( bersama ) prasangka hamba-Ku”
Maksudnya adalah semakin seorang hamba itu ingin dekat kepada Allah maka Allah juga ingin dekat kepada hamba-Nya, bagaimana kita mengetahui bahwa maknanya demikian, yaitu dengan melihat akhir dari hadits ini, karena jika kita hanya berhenti di potongan hadits ini maka maknanya pun belum jelas, dimana makna hadits ini adalah samudera yang sangat luas, samudera tauhid yang tidak akan pernah ada dasarnya, bagaiamana kedalaman tauhid Ilahi, maka diperjelas makna hadits ini dengan kalimat-kalimat di akhirnya, yaitu :
وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ بِشِبْرٍ تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً
“ Jika dia mendekat kepada-Ku satu jengkal maka Aku mendekat kepadanya satu hasta, jika ia mendekat kepada-Ku satu hasta maka Aku mendekat kepadanya satu depa, dan jika ia mendatangi-Ku dengan berjalan maka Aku mendatanginya dengan bergegas”
Maka kalimat ini memperjelas makna dari “ aku tergantung (bersama) dengan prasangka hamba-Ku”. Jika hati seorang hamba ingin lebih dekat kepada Allah maka Allah ingin lebih dekat kepadanya, jika hamba ingin jauh dari Allah maka Allah juga ingin jauh darinya. Oleh sebab itu jika kita fahami, hadits ini merupakan panggilan cinta yang sangat indah dari Allah subhanahu wata’ala, yang diturunkan kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam untuk disampaikan kepada ummatnya hingga sampailah kepadaku dan kalian di malam hari ini, bahkan kita sudah sering mendengar tentang hadits ini, tawaran cinta dari Rabbul ‘alamin dan bagaimana prasangka kita terhadap Allah subhanahu wata’ala, jika kita mencintai Allah subhanahu wata’ala maka ungkapkan dan kemukakanlah, kapan kita mengucapkannya atau melafadzkannya?!, maka hadits qudsi yang kedua Allah berfirman:
أَنَا مَعَ عَبْدِى حَيْثُمَا ذَكَرَنِى، وَتَحَرَّكَتْ بِى شَفَتَاه
“ Aku bersama hamba-Ku ketika ia menyebut-Ku dan bergetar bibirnya menyebut nama-Ku”
Al Imam Ibn Hajar Al Asqalany di dalam Fathul Bari bisyarh Shahih Al Bukhari menjelaskan makna hadits ini bahwa satu jengkal kedekatan kepada Allah subhanahu wata’ala, dimana kedekatan dengan Allah itu bisa dengan lisan (dzikir), namun mendekat kepada Allah bukan hanya dengan lisan saja, tetapi bisa dengan hati, tangan, harta, dan yang lainnya namun dalam hadits ini menunjukkan bahwa ada hal yang paling disenangi dan dicintai Allah, sebagaimana seseorang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam : “wahai Rasulullah, syariat dan ibadah dalam agama ini sangat banyak sehingga aku terkadang bingung untuk memilih mana yang lebih utama, maka tunjukkanlah aku satu hal saja yang membuat aku dicintai Allah subhanahu wata’ala, masuk ke dalam surga dan selamat dari api neraka”, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata : “biarkan lidahmu selalu basah dengan dzikir kepada Allah subhanahu wata’ala”, maksudnya adalah dengan banyak menyebut nama Allah subhanahu wata’ala. Maka hal ini kembali kepada hadits yang disebut tadi وَتَحَرَّكَتْ بِيْ شَفَتَاهُ ( bergetar bibirnya dengan menyebut nama-Ku ), karena orang yang mencintai sesuatu maka akan banyak menyebutnya. Maka hal yang sangat menggembirakan dan perlu kita banggakan dan kita syukuri adalah dengan adanya mejelis-mejelis dzikir Jalaalah di saat ini, dimana disaat nama Allah sudah mulai tidak ada lagi orang-orang yang menyebutnya, sehingga masih banyak orang di zaman sekarang malu untuk menyebut nama Allah, keadaaan yang seperti ini terjadi di pulau Jawa yang mayoritas adalah muslimin maka bagaiamana di wilayah lainnya. Dan di saat seperti itu muncullah semangat dari para pemuda-pemudi kita untuk menggemuruhkan lafadz Allah, maka hal itu patut kita bela dan kita pedulikan jika kita cinta kepada Allah subhanahu wata’ala. Alangkah indahnya di saat panggung-panggung maksiat tersebar yang semakin menjauhkan manusia dari Allah, setiap detik-detik yang lewat penuh dengan kehinaan, justru kita gemuruhkan panggung terbesar yang megumandangkan nama Allah subhanahu wata’ala tepat di hari kelahiran nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Ini adalah hadiah ulang tahun untuk sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Hadirin hadirat, kita berharap acara besok adalah merupakan maulid terbesar di dunia, semoga acara ini sukses, amin. Acara ini tidak hanya akan disiarkan oleh channel televisi di Indonesia saja, bahkan CNN dan Aljazeera juga akan meliputnya. Ya Allah, disaat telah banyak orang-orang yang tidak lagi menyebut nama-Mu, maka jadikanlah kami termasuk orang-orang yang memperjuangkan gemuruhnya nama-Mu, jadikan perkumpulan kami perkumpulan terbesar yang menggemuruhkan nama-Mu di hari lahirnya sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, di ibukota negeri muslimin terbesar di muka bumi. Ya Allah jika melihat dosa-dosa kami maka kami tidak pantas mendapatkan kemuliaan ini namun kemuliaan dari kedermawanan-Mu lah yang menarik kami untuk terlibat dalam hal ini, Ya Allah catat seluruh nama kami yang hadir di majelis ini dan yang menyaksikan dari kejauhan termasuk dalam kelompok yang menggemuruhkan nama-Mu disaat nama-Mu mulai dilupakan dan malu untuk diucapkan, amin ya rabbal ‘alamin.
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Maka dari hadits diatas dapat kita fahami bahwa nama-nama orang yang berdzikir dengan berkelompok dan berjamaah akan disebut dan digemuruhkan oleh Allah subhanahu wata’ala di langit. Allah Yang menyebut nama-nama mereka yang menggemuruhkan nama-Nya, sungguh hal ini merupakan anugerah yang demikian agung di malam hari ini. Kedua hadits qudsi ini sengaja saya rangkapkan dimana maknanya sering saya sebut namun kali ini baru dituliskan, sebagai hadiah dan saksi untuk kita kelak di hari kiamat kelak bahwa di malam 12 Rabi’ul Awal, di malam lahirnya sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam kita mendengar hadits ini dan membacanya bersama-sama, dan Allah subhanahu wata’ala menjadi saksi. Dan Allah subhanahu wata’ala menyebut nama-nama yang menyebut nama-Nya. Siapakah kita? Hanyalah hamba yang siang dan malam penuh dosa. Hadirin hadirat, para pendoa termuliakan dan disetiap detiknya mereka semakin dekat kepada Allah. Dalam sebuah riwayat ada dua orang yang ditimbang amal baiknya dan keduanya sama-sama berat, namun hanya berbeda satu kalimat “Subhanallah” saja namun perbedaan derajatnya di surga bagaikan antara langit dan bumi, hanya berbeda dalam satu kalimat “Subhanallah” saja, maka terlebih lagi jika lebih dari itu. Ucapan saya ini bukan berarti kita tidak perlu lagi bekerja atau berusaha, namun agar kita tidak terlalu banyak memikirkan hal-hal yang fana daripada hal-hal yang kekal. Ingatlah selalu kepada hal yang kekal dan berjalanlah dengan hal yang fana, maka hal yang fana ini akan tunduk kepada Yang memilikinya.
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Ketahuilah di dalam usaha menuju kesuksesan, detik-detik penentu adalah milik Allah, penentu sukses atau tidaknya hanyalah Allah subhanahu wata’ala, dan kesuksesan itu membawa kebaikan yang kekal atau tidak Allah juga yang menentukan. Oleh sebab itu beruntung orang yang berusaha dan terus berpegang kepada tali Allah subhanahu wata’ala yaitu utusan-Nya yang paling dicintai-Nya, sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Diriwayatkan oleh Al Imam Ibn Hajar Al Asqalani mensyarahkan hadits tadi bahwa rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda bahwa : “ setiap orang di surga itu mempunyai kenikmatan yang berbeda-beda, dan tidak ada kenikmatan yang lebih indah daripada memandang keindahan Allah subhanahu wata’ala”, hal itu adalah kenikmatan yang paling lezat dari semua kelezatan yang ada di surge. Dan orang-orang di surge pun ada tingkatan derajatnya, Al Imam Ibn Hajar berkata bahwa ada orang yang selama 1000 tahun hanya sekali melihat Allah, ada yang selama 100 tahun sekali melihat Allah, ada yang 10 tahun sekali untuk diizinkan melihat Allah, dan ada pula yang hanya sekali saja melihat Allah, dan ada hamba yang setiap hari melihat Allah, sebagaimana sabda rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa ada diantara hamba-hamba Allah ada yang setiap pagi dan sore melihat Allah subhanahu wata’ala, dan bagaimana dengan hamba yang telah melihat Allah sebelum wafatnya, sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam sudah berjumpa dengan Allah subhanahu wata’ala sebelum beliau wafat, di malam mi’raj kemudia beliau kembali ke bumi. Sungguh betapa indahnya cinta Allah subhanahu wata’ala kepada sang nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka malam ini adalah malam doa, malam dzikir, malam agung, malam 12 Rabi’ul Awal, begitu banyak hamba-hamba yang didekatkan kepada Allah subhanahu wata’ala. Kalau seandainya kita kehilangan satu detik saja maka akan membuat lepasnya derajat kita di langit dan bumi dan hal itu kekal dan abadi, satu detik yang kita tangisi yang telah lewat dalam hal-hal yang bukan ibadah, maka terlebih lagi jika lewat dalam dosa bagaimana kita tidak akan menangisi dosa-dosa kita. Oleh sebab itu tunduknya jiwa dan sanubari hamba, Allah berikan kepemimpinannya kepada orang yang paling tunduk kepada Allah, yaitu sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Diriwayatkan di dalam Sirah Ibn Hisyam di saat beliau lahir, beliau langsung bersujud kepada Allah subhanahu wata’ala, dan telunjuk beliau menunjuk ke langit dan berkata :
لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِيْ وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
Ucapan itu diucapkan oleh nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dengan fasih di saat bayi, ketika lahir beliau langsung bersujud tanpa ada setetes darah pun, dan tanpa ada sakit sedikitpun yang dirasakan, menunjukkan bahwa inilah pemimpin orang yang bersujud, sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Dijelaskan di dalam surah Maryam, bahwa nabi Isa AS ketika lahir sudah bisa berbicara, karena ibunya ( sayyidah Maryam ) merasa bingung dan risau atas cobaan yang tiba-tiba hamil tanpa seorang suami, sehingga mulailah banyak fitnah dan ucapan-ucapan orang lain yang mencela keadaanya, maka sayyidah Maryam berkata, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala :
فَأَجَاءَهَا الْمَخَاضُ إِلَى جِذْعِ النَّخْلَةِ قَالَتْ يَا لَيْتَنِي مِتُّ قَبْلَ هَذَا وَكُنْتُ نَسْيًا مَنْسِيًّا
( مريم : 23 )
“Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (besandar) pada pangkal pohon kurma, ia berkata: "Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti, lagi dilupakan". ( QS. Maryam : 23 )
Maka diilhamkan kepada sayyidatuna Maryam agar di saat melahirkan nanti untuk menunjuk saja kepada bayinya tanpa harus berbicara apapun, maka bayi itu yang akan menjawab, dimana maka itu berkata sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala :
وَسَلَامٌ عَلَيْهِ يَوْمَ وُلِدَ وَيَوْمَ يَمُوتُ وَيَوْمَ يُبْعَثُ حَيًّا
( مريم : 15 )
“Kesejahteraan atas dirinya pada hari ia dilahirkan, dan pada hari ia meninggal dan pada hari ia dibangkitkan hidup kembali” ( QS. Maryam : 15 )
Itulah nabiyullah Isa As bin Maryam, disaat lahir langsung bisa berbicara. Disebutkan di dalam Fathul Bari menukil tentang tanda-tanda kelahiran nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam diantaranya adalah padamnya api di Kekaisaran Persia yang selama ribuan tahun belum pernah padam, dan juga runtuhnya singgasana di Istana Kisra. Disaat hampir terbitnya fajar lahirlah sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, hadiah teragung dari Allah Allah subhanahu wata’ala sebagai “Rahmatan Lil ‘aalamin”. Seluruh alam semesta bergemuruh dengan tasbih karena kelahirannya. Sayyidina Abbas Ibn Abdul Mutthalib RA, salah satu paman Rasulullah yang masuk Islam, beliau berkata kepada rasulullah:
يَارَسُوْلَ اللهِ أَذِنِّي لِأَمْتَدِحَكَ
" Wahai Rasulullah izinkan aku untuk ( membacakan syair ) memujimu "
Maka Rasulullah berkata :
قُلْ لَا يفَضِّضُ اللهُ فَاكَ
" Ucapkanlah (syairmu) semoga Allah menjaga mulutmu ( gigimu ) dari segala penyakit "
Maka berkatalah sayyidina Abbas bin Abdul Mutthallib dan diantara ucapannya adalah :
أَنْتَ لَمَّا وُلِدْتَ أَشْرَقَتِ اْلَأرْضُ وَضَـاءَتْ بِنُوْرِكَ اْلأُفُقُ فَنَحْنُ فِيْ ذَلِكَ الضِّيَاءِ وَفِي النُّوْرِ وَسُبُلِ الرَّشَـادِ نَخْتَرِقُ
“Ketika engkau terlahir ke bumi bersinar dan cakrawala dipenuhi dengan cahayamu, dan kami pun selalu berada di tengah cahaya dan jalan yang penuh petunjuk "
Kita memahami jika cahaya matahari saja bisa menyinari seluruh barat dan timur, maka terlebih lagi cahaya makhluk yang paling dicintai Allah subhanahu wata’ala, sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, yang mana keindahanya tidak Allah perlihatkan keseluruhannya, sebagaimana dijelaskan oleh Al Allamah As Sayyid Muhammad bin Alawi Al Maliki dalam kitabnya Muhammad Insaan Al Kaamil, dimana ketika ditanya ketika di zaman nabi Yusuf para wanita mengiris-iris jari-jarinya karena keindahan nabi Yusuf As, namun hal itu tidak terjadi pada zaman nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka dijelaskan oleh As Sayyid Muhammad bin Alawi Al Maliki di dalam kitabnya Muhammad Insaan Al Kaamil bahwa Allah menyembunyikan keindahan rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dimana 9 bagian disembunyikan dan hanya 1 bagian yang diperlihatkan di bumi, dan jika seandainya kesemuanya diperlihatkan maka tanpa disadari manusia akan mengiris jantungnya dari indahnya wajah sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Wajah itu akan kita lihat insyaallah, mudah-mudahan kita termasuk ke dalam kelompok orang-orang yang membanggakan beliau, bukan kelompok yang mempermalukan beliau, amin. Demikian indahnya kelahiran nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Diriwayatkan pula bagaimana indahnya malam kelahiran nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dalam sirah Ibn Hisyam dijelaskan bahwa ketika waktu fajar itu seorang Yahudi berteriak di tempat yang tinggi di kota Yatsrib, ia berkata : “ Celakalah kalian wahai kelompok orang Yahudi, semalam sudah terbit bintang yang menunjukkan tanda-tanda kelahiran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam”. Tanda-tanda itu telah disebutkan dalam kitab nabi-nabi terdahulu, di Injil, Taurat dan Zabur. Maka malam kelahiran nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sudah dirayakan oleh Allah subhanahu wata’ala. Namun mengapa para sahabat tidak pernah merayakannya?, karena mereka telah merayakan dengan nyawa mereka, harta mereka, setiap detik dan nafas mereka penuh dengan cinta kepada rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, berjuang satu niat bersama rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Namun berbeda dengan masa kehidupan selanjutnya, dimana keadaan iman semakin menurun, butuhlah pengetahuan, pembenahan dan penguatan, maka ketika para imam melihat manusia sudah mulai mengidolakan orang lain selain nabinya, dibuatlah maulid nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dimana di dalamn maulid itu hanyalah cerita tentang sejarah nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan kenapa harus 12 Rabi’ul Awal?!, karena hari itu adalah hari lahirnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, mengapa dilarang untuk membaca sejarah rasulullah di hari kelahiran beliau, bahkan justru rasulullah merayakan hari lahir beliau. Dijelaskan di dalam Shahih Muslim bahwa rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyembelih sembelihan dan ketika ditanya tentang sembelihan di hari Senin itu beliau menjawab : “ hari itu adalah hari dimana aku dilahirkan”,,. Dan juga Rasulullah tidak mengatakan tentang puasa hari Senin boleh atau tidak, maka di saat sahabat bertanya kepada Rasulullah : “wahai Rasulullah apa hukumnya puasa hari Senin?”, maka rasulullah menjawab : “hari itu adalah hari kelahiranku”, sungguh jawaban yang sangat sempurna bagi yang memahami bahasa, namun berbeda dengan orang yang tidak mengerti bahasa dan memahaminya dengan kedangkalan atau keterpurukan aqidah. Semua orang memahami bahwa jawaban dari rasulullah itu maksudnya bahwa hari Senin adalah hari kelahiran beliau dan berbeda dengan hari-hari yang lain, berarti rasulullah membedakan antara hari Senin dengan hari yang lainnya. Maka ketika beliau ditanya tentang hukum puasa hari Senin, beliau menjawab : “hari tu adalah hari kelahiranku”, agar para sahabat mengingat hari kelahiran beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebagaimana firman Allah tentang nabi Isa :
وَالسَّلَامُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدْتُ وَيَوْمَ أَمُوتُ وَيَوْمَ أُبْعَثُ حَيًّا (33) ذَلِكَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ قَوْلَ الْحَقِّ الَّذِي فِيهِ يَمْتَرُونَ (34)
“Kesejahteraan atas diriku pada hari aku dilahirkan, dan pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali, itulah isa bin Maryam, (dan ucpan isa as ini) adalah ucapan kebenaran yg kalian padanya meragukan” ( QS. Maryam : 33,34 )
Itulah nabiyullah Isa bin Maryam. Hal ini menunjukkan bahwa para-para nabi itu hari kelahiran dan hari wafatnya adalah rahmat. Dan hari lahir dan wafatnya nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah sama-sama hari Senin, bahkan hijrahnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ke Madinah Al Munawwarah pun tepat pada hari Senin, 12 Rabi’ul Awal. Dijelaskan di dalam Shahih Al Bukhari bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam masuk ke Madinah Al Munawwarah bersama sayyidina Abu Bakr As Shiddiq pada hari Senin bulan Rabi’ul Awal. Maka jika mau membaca maulid di hari 12 Rabi’ul Awal silahkan dan di hari yang lainnya pun tidak masalah. Majelis Rasulullah setiap malam membaca maulid, namun pada tanggal 12 Rabi’ul Awal dibuat event besar, sebagai khidmah kepada rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, karena jika melihat dosa-dosa kita bagaiamana kita akan mengharap surga Allah dan mengharap bisa melihat keindahan Allah dengan mata kita yang penuh dosa ini, apa iya kita akan diberi kenikmatan yang sangat indah dan kekal yang siang dan malam kita berbuat dosa, padahal sekali saja kita berbuat dosa hal itu itu sudah cukup bagi Allah untuk menjadikan penghalang bagi kita untuk masuk ke dalam surge. Kelak di akhirat yang ada hanya surga atau neraka, jika tidak di surga maka pastilah di neraka, tidak ada tempat yang ketiga,, salah satu diantara 2 tempat itu yang abadi bagi kita. Sebagian mengatakan bahwa ada gunung diantara surga dan neraka, yaitu tempat orang-orang yang belum mengetahui Islam, tidak ada yang mengajari mereka, di gunung itu mereka melihat semua penduduk surga masuk ke dalam surga dan penduduk neraka masuk ke dalam neraka, dan setelah kesemuanya selesai, maka mereka ditanya oleh Allah: “ apa yang kalian lihat?” maka mereka menjawab : “orang-orang yang mentiadakan Tuhan selain Engkau maka masuk surga, dan orang-orang yang menyekutukan Engkau masuk neraka”, maka ditanyakan kepada mereka: “ lalu bagaimana dengan kalian?”, mereka menjawab : “kami meyakini tiada Tuhan selain Engaku”, maka mereka pun masuk ke dalam surga Allah subhanahu wata’ala, dan tidak ada orang yang kekal di neraka kecuali orang-orang yang Allah ketahui jika seandainya dia balik ke dunia maka ia tetap akan berbuat maksiat.
Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim, pastikan seluruh nama kami yang hadir dan seluruh keluarga dan kerabat kami tercantum di surga-Mu Ya Allah, dan kami ingin memandang-Mu di setiap saat, kami tidak ingin 1000 tahun sekali memandang-Mu, tidak pula 100 tahun sekali memandang-Mu, namun kami ingin setiap detik Engkau beri kesempatan untuk memandang keindahan Dzat-Mu…
فَقُوْلُوْا جَمِيْعًا
Ucapkanlah bersama-sama
يَا الله...يَا الله... ياَ الله.. ياَرَحْمَن يَارَحِيْم ...لاَإلهَ إلَّاالله...لاَ إلهَ إلاَّ اللهُ اْلعَظِيْمُ الْحَلِيْمُ...لاَ إِلهَ إِلَّا الله رَبُّ اْلعَرْشِ اْلعَظِيْمِ...لاَ إِلهَ إلَّا اللهُ رَبُّ السَّموَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ وَرَبُّ اْلعَرْشِ اْلكَرِيْمِ...مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ،كَلِمَةٌ حَقٌّ عَلَيْهَا نَحْيَا وَعَلَيْهَا نَمُوتُ وَعَلَيْهَا نُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى مِنَ اْلأمِنِيْنَ.
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Alhamdulillah kita semua hadir di majelis dzikir ini yang telah disiarkan langsung juga oleh Al Jazeera dan terlebih dari itu nama-nama kita telah digemuruhkan di langit, insyaallah. Selanjutnya pembacaan qasidah mengenang indahnya nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian kalimat talqin dan doa penutup oleh guru kita Al Habib Hud bin Muhammad Baqir Al Atthas, yatafaddhal masykuuraa… Selanjutnya..
Cahaya Wudhu
Ditulis Oleh: Munzir Almusawa
Monday, 14 February 2011
Cahaya Wudhu
Senin, 07 Februari 2011
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ أُمَّتِيْ يُدْعَوْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ غُرًّا مُحَجَّلِيْنَ مِنْ آثَارِ الْوُضُوْءِ، فَمَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يُطِيْلَ غُرَّتَهُ فَلْيَفْعَلْ
( رواه البخاري )
“Sunggu
Sebelum saya melanjutkan tausiah, ada pertanyaan mengapa hadits ini harus dibaca dulu bersama-sama?, tidak harus dibaca namun (maksud kita) hanya dengan niat mengambil barakah. Sebagaimana ta’lim (pembelajaran) itu ada 3 macam, yang pertama adalah belajar dengan membaca buku, yang kedua adalah belajar dengan guru, dan yang ketiga adalah ta’lim (belajar) dengan cara talaqqi. Seperti yang kita fahami bahwa belajar dengan buku tanpa guru bisa jadi kesalahannya lebih banyak daripada ta’lim dengan guru langsung, namun belajar langsung kepada guru pun terkadang salah faham juga atas apa-apa yang disampaikan oleh gurunya. Dan yang paling utama adalah belajar dengan cara talaqqi, talaqqi adalah ucapan langsung dari gurunya kemudian diucapkan lagi oleh muridnya. Dan Ulama’ masa kini menggunakan ketiganya, jadi kitab atau bukunya ada, syarah guru serta talaqqinya juga ada. Bahkan kitab-kitab seperti Shahih Al Bukhari dan terjemahannya sangat mudah kita dapatkan. Namun ta’lim yang paling utama adalah Talaqqi karena inilah yang disebut dengan sanad keguruan, dimana seorang guru belajar langsung kepada gurunya sehingga bersambung kepada Al Imam Bukhari dan sampai kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Setelah kita membaca hadits tadi dan acara selesai maka selesailah pembacaannya namun ruh kita terus bersambung kepada Al Imam Al Bukhari sampai kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ اْلجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ اَلْحَمْدُلِلَّهِ الَّذِيْ هَدَانَا بِعَبْدِهِ اْلمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ نَادَانَا لَبَّيْكَ يَا مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبـَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِي جَمَعَنَا فِي هَذَا الْمَجْمَعِ اْلكَرِيْمِ وَفِي هَذَا الشَّهْرِ اْلعَظِيْمِ وَفِي الْجَلْسَةِ الْعَظِيْمَةِ نَوَّرَ اللهُ قُلُوْبَنَا وَإِيَّاكُمْ بِنُوْرِ مَحَبَّةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَخِدْمَةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَاْلعَمَلِ بِشَرِيْعَةِ وَسُنَّةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.
Cahaya Allah subhanahu wata’ala yang menerangi kita dengan rahmat-Nya, gelombang rahmat-Nya terus mencari tempat-tempat yang pantas dijadikan tempat untuk bergabung, seperti gelombang-gelombang yang muncul, banjir, atau tsunami kesemuanya mengarah ke tempat yang lebih rendah, maka majelis-majelis dzikir dan majelis-majelis ta’lim itu adalah tempat mengarahnya para malaikat pembawa rahmat, namun yang paling banyak mendapatkan bagian rahmat adalah orang yang paling rendah hati dan tidak menyombongkan diri, tidak riya’ namun dia merasa bahwa dirinya adalah orang yang paling banyak dosa dan bersyukur karena telah diizinkan oleh Allah untuk duduk di majelis itu, maka orang yang seperti itu akan dimuliakan oleh Allah.
مَنْ تَوَاضَعَ ِللهِ رَفَعَهُ اللهُ
“ Barangsiapa yang merendahkan hati karena Allah, maka Allah mengangkat (derajat)-nya.”
Maka mereka itulah genangan rahmat Allah, kita berkumpul di majelis ini dari tumpahruahnya rahmat Ilahi mengenai semua yang hadir, lalu sedikit demi sedikit genangan rahmat itu akan mengarah kepada yang paling rendah hati dan tawadhu’, dalam hatinya tidak ada rasa sombong. Inilah medan untuk mencapai rahmat Ilahi, dan dimanapun rahmat Allah itu bertebaran bahkan melebihi padatnya udara yang ada di muka bumi karena udara adalah bagian dari rahmat Allah, dan melebihi lautan karena lautan adalah bagian dari rahmat Allah, dan melebihi debu yang ada dipermukaan bumi dan terpendam di dalam bumi karena kesemuanya adalah bagian dari rahmat Allah. Kehidupan, kematian, alam barzakh dan hari kiamat adalah merupakan bagian dari rahmat Allah, bahkan orang yang di neraka sekalipun masih mendapatkan rahmat Allah, dari mana? Yaitu dari syafaat nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah munculkan rahmat-Nya di neraka berupa syafaat nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam selama mereka meninggal dalam keadaan tidak menyekutukan Allah. Jika di neraka saja rahmat Allah masih terus ada dan tidak bisa terputus maka terlebih lagi untuk kita yang masih hidup di dunia, yang masih akan melewati fase sakaratul maut, alam kubur, barzakh dan hari kiamat, masih tersisa 3 fase di hadapan kita dimana zaman yang masih akan kita lewati yang kesemuanya itu penuh dengan rahmat Allah subhanahu wata’ala yang masih akan kita dapatkan, dan semakin banyak kita mendoakan kaum muslimin lainnya maka semakin banyak pula bagian rahmat yang akan kita dapatkan dari doa-doa kita untuk orang muslim lainnya, dengan doa seperti :
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ
“ Wahai Allah ampunilah (dosa) ku, dan semua orang muslim laki-laki dan muslim perempuan ”
Maka dari doa itu kesemua muslimin muslimat termasuk dalam doanya, terlebih lagi jika dia hadirkan hatinya dalam mendoakan kaum muslimin, dengan mendoakan yang hidup atau yang telah wafat, yang hidup semoga semakin diluaskan rizkinya, yang telah wafat semoga dijauhkan dari siksa kubur, yang terkena bencana alam semoga diberi kesabaran, yang dalam kesusahan semoga diberi kemudahan, yang kaya raya semoga diberi hidayah dan mau mnegeluarkan hartanya untuk fakir miskin, dan yang terjebak dalam kerusakan aqidah semoga diberi hidayah, semakin dalam doa kita untuk mereka maka semakin besar anugerah Allah untuk kita, dan hal itu tidak bisa diamalkan kecuali oleh orang-orang yang dicintai Allah, karena jiwa yang seperti itu sejiwa dengan jiwa sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang selalu memikirkan keadaan ummatnya. Bahkan ketika beliau akan wafat yang dipanggil adalah “ummatku, ummatku”, dan ketika beliau dibangkitkan pertama kali yang disebut adalah “ummatku, ummatku”, demikian keadaan nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan mengenai sebagian kaum yang belum mau beriman dan belum mau taat kepada Allah, bahkan selalu ingin berbuat kemaksiatan dan kemungkaran saja, maka Allah telah menjelaskan kepada kita dalam masalah ini yaitu untuk tidak memusuhi mereka dan tidak terlalu memaksa mereka untuk beriman dan taat kepada Allah, karena mereka masih belum diberi hidayah oleh Allah subhanahu wata’ala, sebagaimana firman-Nya :
وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَآَمَنَ مَنْ فِي الْأَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعًا أَفَأَنْتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتَّى يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ
(يونس : 99 )
“ Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya ?” ( QS. Yunus : 99 )
Jika Allah menghendaki maka tidak akan ada lagi orang yang bermaksiat, semuanya akan Allah beri hidayah, jika Allah berkehendak maka Allah mampu melakukannya. Maka Allah bertanya kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam : “apakah engkau membenci manusia yang belum beriman, sampai ia beriman? Dan terkadang kita tidak berlaku sopan dan baik kepada orang yang bermaksiat sampai ia beriman. Hal ini menunjukkan bahwa berbuat baik kepada saudara saudari kita yang belum mendapatkan hidayah adalah sesuatu yang terpuji dan dianjurkan, dan membenci mereka adalah hal yang dilarang Allah , karena jika Allah mau maka semua manusia akan diberi hidayah oleh Allah subhanahu wata’ala. Teguran langsung dari Allah ini adalah tuntunan Ilahi agar kita senantiasa berbuat baik kepada semua orang baik yang beriman atau tidak. Namun tentunya ada perbedaannya juga cara memperlakukan antara orang yang beriman dan yang tidak beriman, antara orang yang shalih, antara orang tua atau kakak dan adik kita, antara ulama’ guru-guru dan para shalihin, masing-masing punya cara. Kelakuan kita dengan orang tua kita yang muslim atau yang non muslim pun harus tetap berbuat baik kepadanya. Sebagaimana diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari dan riwayat lainnya dimana salah seorang wanita bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dia berkata : “ ibuku datang kepadaku dalam keadaan musyrikah ( dari golongan kuffar quraisy dan belum masuk Islam) apakah aku harus menyambutnya?”, maka rasulullah berkata : “iya, jika dia datang sambut dan jamulah dia”. Demikian budi pekerti kerukunan antar ummat beragama yang perlu kita perhatikan. Ada habl minannaas ( hubungan dengan manusia) dan ada habl minallah (hubungan dengan Allah), selanjutnya kita mengarah pada hubungan kita dengan Allah. Hadits yang telah kita baca tadi :
إِنَّ أُمَّتِيْ يُدْعَوْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ غُرًّا مُحَجَّلِيْنَ مِنْ آثَارِ الْوُضُوْءِ
“Sungguh ummatku akan diseru pada hari kiamat dalam keadaan bercahaya karena bekas wudhu'nya”
Dalam hadits ini Al Imam Ibn Hajar berpendapat bahwa terdapat 2 hadits, hadits yang diatas adalah hadits yang pertama dan hadits berikut adalah hadits yang kedua:
فَمَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يُطِيْلَ غُرَّتَهُ فَلْيَفْعَلْ
“ Maka barangsiapa yang mampu melebihkan panjang sinar pada tubuhnya maka lakukanlah.”
Jadi kalau kita berwudhu, batas wajah adalah lebarnya dari telinga kanan sampai ke telinga kiri dan panjangnya dari tempat tumbuh rambut kira-kira satu telunjuk dari tempat tumbuhnya alis hingga ke dagu. Dan jika ingin mendapatkan kemuliaan yang ada dalam hadits tadi maka lebihkan sedikit ketika membasuh anggota wudhu’. Maka ketika membasuh muka dilebihkan hingga sampai ke rambut dan ke leher, jika membasuh tangan maka dilebihkan hingga ke atas siku, dan membasuh kaki dilebihkan hingga ke tengah betis, begitu juga dengan anggota wudhu yang lainnya. Dan menurut Al Imam Ibn Hajar hadits ini terdapat 2 makna, yang pertama bahwa yang dimaksud “ghurran muhajjilin” orang yang dibangkitkan dengan wajah yang terang benderang di hari kiamat adalah yang melebihkan air dalam membasuh anggota wudhu, namun menurut pendapat yang kedua bahwa yang dimaksud adalah orang yang memperbanyak wudhu. Jadi semakin banyak berwudhu’ maka semakin indah dan cerah wajahnya di hari kiamat karena cahaya Allah. Wudhu adalah make up yang tidak akan hilang, karena cahaya wudhu itu tidak sirna di alam kubur, tidak pula sirna di barzakh atau di hari kiamat. Make up dan kosmetik yang lain akan hilang jika terkena air , maka make up wudhu lah yang paling agung. Maka jika ingin memiliki wajah yang cerah dan sejuk dipandang perbanyaklah berwudhu namun jangan diniatkan untuk memperindah wajah namun karena untuk mengikuti sunnah sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Orang yang terbiasa berwudhu kemudian dia tidak berwudhu maka orang yang biasa melihatnya akan merasakan perbedaan ketika melihat wajahnya. Dikatakan bahwa Al Arif billah jika mereka keluar rumah tanpa berwudhu maka seakan-akan mereka keluar rumah tanpa pakaian, karena orang yang berwudhu itu dijaga daripada hal-hal yang membahayakan seperti sihir, sifat sedih,sifat benci, sifat iri dan lainnya . Semoga wajah kita cerah dan terang benderang di hari kiamat dengan cahaya wudhu, sebagaimana hadits nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang telah kita baca tadi, amin.
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Kita merenungi hadits rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dimana ketika beliau di Madinah Al Munawwarah didatangi oleh seorang sahabat dari kalangan Anshar dan berkata : “wahai Rasulullah, onta merah kami mengamuk dengan sangat beringasnya”, onta merah adalah onta yang terbesar di Madinah Al Munawwarah. Maka rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata : “bawa aku padanya”, kemudian rasulullah meminta dibukakan pintu jebakan itu, maka para sahabat berkata : “wahai rasulullah onta itu sedang sangat beringas” maka rasulullah berkata : “ segala sesuatu yang ada di langit dan bumi mengenal dan mengetahui bahwa aku adalah utusan Allah, kecuali pendosa dari golongan jin dan manusia maka mereka tidak mengenal aku”. Wahai Rasulullah, kami adalah pendosa dan hati kami terguncang mendengar hadits ini, awalnya kami gembira bahwa engkau dikenal seluruh makhluk di langit dan bumi, namun kalimat terakhir “kecuali pendosa dari golongan jin dan manusia maka mereka tidak mengenalku”, apakah kami tidak mengenalmu wahai rasulullah?!. Wahai Allah kami semua hadir untuk berdzikir dan bershalawat, maka jangan sisakan satu pun dari kami kecuali kesemuanya telah dikenali oleh rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan mengenal beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Hadirin hadirat, perbanyak dzikir, perbanyak ibadah, perbanyak doa dan munajat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda bahwa ketika terakhir nabi Ibrahim dilemparkan ke dalam api, kalimat terakhir yang diucapkan oleh nabiyullah Ibrahim AS adalah :
حَسْبِيَ اللهُ وَنِعْمَ اْلوَكِيْلُ
" Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung."
Ayat ini diwariskan kepada kita dengan firman yang selalu kita baca setiap di awal maulid :
فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُلْ حَسْبِيَ اللهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ
( التوبة : 129 )
“Jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah, “Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki ‘Arsy yang agung” ( QS. At Taubah : 129 )
Dan sebagaiamana riwayat Al Imam Abu Daud Radhiyallahu ‘anhu :
مَنْ قَالَ إِذَا أَصْبَحَ وَإِذَا أَمْسَى حَسْبِيَ اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ سَبْعَ مَرَّاتٍ كَفَاهُ اللَّهُ مَا أَهَمَّهُ صَادِقًا كَانَ بِهَا أَوْ كَاذِبًا
“Barangsiapa dipagi hari atau sore membaca “Hasbiyallah Laa ilaaha illa huwa ‘alaihi tawakkaltu wa huwa rabbul ‘arsy al ‘azhiim” 7 kali, maka Allah akan melindunginya dari apa apa yg dirisaukannya, apakah ia membacanya dengan kesungguhan atau tidak dengan kesungguhan” (HR Abu Dawud)
Dan terlebih lagi Jika kita hadirkan makna kalimat itu disaat kita membacanya. Wahai Allah rangkullah kami dalam kasih sayangmu dan jadikanlah kami hanya selalu berharap kepada-MU, sehingga kami tidak lagi meminta dan mengharap kepada selain-Mu…
َقُوْلُوْا جَمِيْعًا
Ucapkanlah bersama-sama
يَا الله...يَا الله... ياَ الله.. ياَرَحْمَن يَارَحِيْم ...لاَإلهَ إلَّاالله...لاَ إلهَ إلاَّ اللهُ اْلعَظِيْمُ الْحَلِيْمُ...لاَ إِلهَ إِلَّا الله رَبُّ اْلعَرْشِ اْلعَظِيْمِ...لاَ إِلهَ إلَّا اللهُ رَبُّ السَّموَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ وَرَبُّ اْلعَرْشِ اْلكَرِيْمِ...مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ،كَلِمَةٌ حَقٌّ عَلَيْهَا نَحْيَا وَعَلَيْهَا نَمُوتُ وَعَلَيْهَا نُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى مِنَ اْلأمِنِيْنَ.
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Rencana acara maulid akbar kita hari Selasa yang akan datang insyaallah menjadi maulid terbesar di dunia. Tepat pada tanggal 12 Rabi’ul Awal 1432 H akan bersatu kaum muslimin muslimat dari berbagai penjuru di Jabodetabek, pulau Jawa, Sumatera , Sulawesi dan lainnya akan bersatu di Jantung Ibukota negara muslim terbesar yaitu di Monas Jakarta. Kita bersama-sama untuk mendapatkan rahmat dan kedamaian dari Allah untuk bangsa kita, kota kita dan negeri lainnya, amin. Dan malam Selasa yang akan datang majelis di masjid Al Munawwar insyaallah akan kedatangan Al Allamah Al Musnid Al Habib Salim As Syathiri namun pada hari Selasa majelis di Monas beliau tidak bisa hadir karena ada jadwal lain di hari itu dan beliau memilih untuk hadir di malam Selasa majelis di masjid Al Munawwar insyaallah. Selanjutnya pembacaan qasidah Yaa Arhamarrahimin, kemudian talqin dan doa penutup oleh guru kita Al Habib Hud bin Muhammad Baqir Al Atthas yatafaddhal masykuuraa.
Selanjutnya..
Langganan:
Postingan (Atom)