Sabda Rasulullah SAW : “Belum sempurna iman kalian, hingga aku lebih dicintainya, dari ayah ibunya, dan anaknya, dan seluruh manusia” ........................ " Jadikan Jakarta Kota Sayyidina Muhammad SAW" ..........................." Jadikan Rasulullah SAW Idolamu !"(Shahih Bukhari)

Sabtu, 28 Mei 2011

Kesedihan Seorang Ibu

Oleh : Alhabib Sholeh Alaydrus

Dizaman dulu ada
seorang yang dikenal oleh masyarakat sekelilingnya bahwa ia adalah seorang yang
baik. Pada suatu waktu ia ingin sekali pergi ke Mekkah Al-Mukarramah, namun
orang tuanya tidak mengizinkannya pergi karena sayangnya kepada anaknya
tersebut.

Anak itu, karena keinginannya
yang sangat, maka pergilah ia dan tidak memperdulikan lagi larangan orang
tuanya. Ketika ia berangkat, ibunya mengikuti dari belakang sambil
menjerit-jerit, memanggil-manggilnya dan melarangnya jangan pergi, namun
anaknya itu tetap bertekad berusaha meneruskan perjalanannya.

Melihat keadaan yang
demikian, ibunyapun berdo’a dan bermunajat kepada Allah; “Wahai Tuhanku,
sungguh aku merasa sedih karena perginya anak itu, saya telah melarangnya namun
ia tetap pergi, wahai tuhanku, sungguh kepergiannya menyedihkan saya ;wahai
tuhanku, timpahkan atas dirinya suatu bencana”.

Dengan penuh rasa
pedih dan sedih ibunya pulang kembali kerumahnya, sedang anaknya tersebut terus
berjalan dan sampailah ia pada suatu desa, dimana ia tidak mempunyai kenalan
seorangpun di sana; oleh karenanya ia
masuk di suatu masjid untuk istirahat dan ibadah.

Pada malam itu juga
terjadi suatu pencurian di suatu rumah, tapi pencuri itu dapat dihalau dan
dikejar oleh orang-orang yang ada disitu. Pencuri itu lari dan masuk ke masjid
dimana orang yang akan pergi haji tadi sedang shalat. Ketika orang-orang
mengejar pencuri tersebut sampai masjid, terlihat oleh mereka seorang tengah
melakukan shalat, sedang pencuri yang dikejar telah menghilang.

Diantara orang-orang
yang mengejar itu mengatakan: “Ini dia pencuri yang kita kejar itu, Dia
berpura-pura shalat!”

Merekapun
menangkapnya, dan menahan segala barang-barang yang ada padanya. Ia dibawa ke
tempat yang berwajib. Yang berwajib memutuskan suatu hukuman yaitu dipotong
kedua tangannya, dan kedua kakinya serta dicukil kedua matanya. Hukuman itu
dilaksanakan oleh petugas. Maka terpotonglah kedua tangannya, kedua kakinya dan
melayanglah kedua biji matanya. Kemudian ia digiring keliling pasar serta
diperintahkan untuk meneriakkan: “Beginilah ganjaran pencuri!”, tapi ia
enggan meneriakkan demikian itu sambil berkata: “Saya tidak akan teriakkan
itu, tapi saya akan teriakkan, “beginilah pembalasan dan ganjaran orang yang ingin
berthawaf di ka’bah/ berhaji di Makkah tanpa seizin orang tuanya”.

Dengan demikian petugas-petugas itupun barulah
mengetahui bahwa orang itu bukan pencuri yang dikejar-kejar, tapi dia adalah
seorang yang mendapat musibah dan bencana dari Allah akibat pelanggaran dan
kedurhakaannya terhadap orang tuanya.

Merekapun
mengembalikannya kepada orang tuanya. Ibunya yang sedang berada di tempat
peribadatannya tiba-tiba mendengar suara anaknya yang sudah tidak dikenalnya
itu berkata, “Wahai ibu!, saya musafir yang lapar, berilah saya sekedar
makanan”. Ibunya menjawab.”Masuklah dulu engkau ke pintu “.
Jawabnya, “Saya tak dapat masuk karena saya tak berkaki lagi…”. Kata
ibunya, “Kalau begitu ulurkan tanganmu!”. Jawabnya, “Saya tak
bertangan lagi……”. Kata ibunya, “Saya akan menyuapimu, tapi bagaimana,
tidak boleh seorang wanita berhadapan dengan seorang lelaki yang bukan mahramnya”.
Jawabnya, “Jangan kuatir! Karena saya tidak bermata lagi……”.

Ibunya yang sudah
tidak mengenalnya itu mengambil sepotong roti dan segelas air, lalu
memberikannya. Tiba-tiba anak itu meletakkan wajahnya di telapak kaki ibunya,
sambil ia berkata,”Sayalah anakmu……yang durhaka kepadamu”. Barulah
ibunya sadar, bahwa orang itu adalah anaknya sendiri. Melihat anaknya
sedemikian itu menangislah ia dengan terseduh-seduh seraya meminta dan memohon
kepada Allah, “Wahai Tuhanku!. Matikanlah aku bersama anakku ini”.

Do’a ibu itu diterima
dan dikabulkan oleh Allah, dan seketika itu juga matilah duanya.

Dari hikayat ini kita
dapat mengambil suatu kesimpulan bahwa musibah dan bencana yang tertimpa atas
diri orang tersebut adalah semuanya karena pelanggaran dan kedurhakaannya
terhadap orang tuanya.

Dan kalau ini hanyalah
karena kedurhakaan sekali, maka bagaimana kalau kedurhakaan itu berulang-ulang
kali?

Semoga Allah SWT
menjadikan kita semua dari pada orang-orang yang taqwa kepada-Nya dan taat
kepada ayah bundanya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar